PROFIL DESA KEDUNGWANGI

DESA KEDUNGWANGI MAJU

SEJARAH DESA KEDUNGWANGI

Pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, wilayah yang kini bernama Kedungwangi menjadi jalur penting yang menghubungkan berbagai daerah. Patih legendaris Gajah Mada sering melewati jalur ini untuk urusan pemerintahan. Karena letaknya strategis, wilayah ini tercatat dalam kisah besar Babat Tanah Jawa.

Pada masa perkembangan Islam, Kanjeng Sunan Giri mengutus santrinya, Abdul Basyar, untuk berdakwah. Ia melakukan perjalanan jauh melintasi hutan dengan seekor sapi sebagai kendaraannya. Saat perjalanan itu, ia tiba di wilayah ini bertepatan dengan masuknya waktu sholat Dzuhur.

Warga menyambut Abdul Basyar dengan hormat. Ki Warso, tokoh masyarakat, membantu beliau menyiapkan air wudhu. Ki Warso menggali tanah sesuai petunjuk Abdul Basyar, lalu muncullah sumber air yang jernih. Peristiwa itu memperkuat keyakinan warga bahwa wilayah mereka mendapat keberkahan.

Sejak saat itu, Ki Warso menanamkan nilai agama, persaudaraan, dan kebersamaan kepada warga. Mereka menamai daerah ini Keduk, dari kata keduk tanah yang berarti menggali, karena peristiwa itu melahirkan kehidupan baru.

Tahun 1928, Keduk bergabung dengan Lawan dan membentuk desa baru bernama Kedungwangi, yang berarti sumber mata air baru. Nama itu melambangkan harapan, kehidupan, dan kesejahteraan yang terus mengalir sampai sekarang.

πŸ‘¨β€πŸ‘©β€πŸ‘§β€πŸ‘¦ Demografi dan Kehidupan Masyarakat

Desa Kedungwangi memiliki 3.670 penduduk dalam 1.153 kepala keluarga. Penduduk tersebut meliputi 1.814 laki-laki dan 1.856 perempuan yang tinggal di empat dusun: Lawan, Keduk, Kedungpucang, dan Resik.

Mayoritas penduduk masuk usia produktif, terutama kelompok umur 10 hingga 60 tahun. Kondisi ini memberi desa tenaga kerja yang melimpah untuk menggerakkan pertanian dan aktivitas ekonomi lainnya. Anak-anak dan remaja juga jumlahnya cukup banyak, sehingga desa perlu menyiapkan pendidikan dan keterampilan agar mereka tumbuh menjadi generasi penerus yang cerdas dan mandiri.

Seluruh penduduk Desa Kedungwangi memeluk agama Islam. Mereka menjaga kerukunan lewat sholat berjamaah, pengajian rutin, dan berbagai tradisi keislaman yang terus hidup hingga kini. Warga menanamkan nilai guyub rukun dengan bergotong royong, ikut kerja bakti, serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial desa.

Dari sisi pendidikan, lebih dari 2.200 orang lulus SD, sekitar 401 orang lulus SMP, 272 orang lulus SMA, dan 43 orang berhasil menempuh pendidikan tinggi. Walaupun jumlah sarjana masih terbatas, semakin banyak anak muda desa yang melanjutkan sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi.

Sebagian besar warga bekerja sebagai petani dan buruh tani. Pertanian tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga mencerminkan identitas sosial masyarakat. Sebagian lainnya berdagang, bekerja di sektor swasta, atau menjalankan usaha kecil. Kehidupan ekonomi warga memang masih bertumpu pada pertanian, namun peluang untuk mengembangkan UMKM terus terbuka lebar.

Selain bekerja, masyarakat Kedungwangi aktif menghidupkan kegiatan sosial. Mereka rutin mengadakan kerja bakti, membangun fasilitas umum, dan menjaga tradisi kebersamaan. Semangat gotong royong ini memperkuat karakter desa sebagai komunitas yang solid dan penuh daya juang.

🌾 Potensi Ekonomi dan Sumber Daya Alam

Warga Desa Kedungwangi menggerakkan roda ekonomi melalui pertanian. Mereka mengolah sawah dan ladang untuk menghasilkan bahan pangan pokok. Aktivitas bercocok tanam berjalan seiring dengan perubahan musim hujan dan kemarau, sehingga petani selalu menyesuaikan pola tanam dengan kondisi alam.

Selain bertani, banyak warga mencari nafkah dengan berdagang, membuka usaha kecil, atau bekerja di sektor swasta maupun pemerintahan. Para pedagang menjual hasil pertanian dan kebutuhan pokok, sementara pelaku usaha kecil mengolah produk lokal menjadi barang bernilai tambah. UMKM yang lahir dari kreativitas warga terus tumbuh dan memberi peluang baru bagi perekonomian desa.

Masyarakat Kedungwangi juga mengelola kawasan hutan yang menjadi penyangga ekosistem. Mereka memanfaatkan hutan untuk menjaga siklus air, mencegah erosi, dan mempertahankan kualitas udara. Warga mengambil kayu secukupnya, memetik tanaman obat, serta memanfaatkan hasil non-kayu lain tanpa merusak kelestarian hutan. Keanekaragaman flora dan fauna tetap terjaga karena warga sadar akan pentingnya keseimbangan alam.

Selain hutan, warga menjaga sumber air alami, termasuk sendang bersejarah di depan masjid desa. Air dari sendang itu mereka gunakan untuk beribadah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keberadaan sendang meneguhkan keyakinan warga bahwa air menghadirkan kesejahteraan sekaligus berkah bagi kehidupan desa.

Walaupun potensi alam sangat besar, masyarakat Kedungwangi masih menghadapi keterbatasan modal, akses pasar, dan infrastruktur pertanian. Untuk mengatasi hal itu, pemerintah desa bersama warga:

menerapkan teknologi pertanian modern,

memperkuat koperasi dan UMKM,

mengelola hutan secara produktif sekaligus lestari, dan

menggunakan sumber air secara bijak untuk pertanian serta rumah tangga.

πŸ“š Pendidikan dan Literasi

Masyarakat Desa Kedungwangi menaruh perhatian besar pada pendidikan. Anak-anak desa bersekolah di 4 Taman Kanak-Kanak, 4 SD/MI, 2 SLTP/MTs, dan 1 SLTA/Aliyah. Orang tua mendorong anak mereka untuk menempuh pendidikan dasar hingga menengah tanpa harus keluar jauh dari desa. Guru dan tenaga pendidik juga terus berperan aktif dalam membangun generasi muda yang cerdas dan berakhlak baik.

Data pendidikan menunjukkan lebih dari 2.200 warga berhasil lulus SD, sekitar 401 orang menamatkan SMP, 272 orang lulus SMA, dan 43 orang menyelesaikan pendidikan tinggi. Walaupun jumlah sarjana belum banyak, semakin banyak pemuda desa yang bertekad melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Warga Desa Kedungwangi tidak hanya fokus pada pendidikan formal. Mereka juga menghidupkan TPA dan TPQ di enam lokasi untuk memperkuat pendidikan agama anak-anak. Lembaga ini membantu anak mengenal Al-Qur’an, menanamkan nilai keislaman, dan memperkuat akhlak.

Selain itu, desa memiliki Taman Bacaan Masyarakat. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa memanfaatkan fasilitas ini untuk membaca buku, menambah wawasan, dan mengikuti berbagai kegiatan edukatif. Relawan literasi mengadakan pelatihan membaca, diskusi, serta kegiatan budaya untuk memperkuat minat baca warga.

Pemerintah Desa Kedungwangi berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan literasi. Pemerintah desa:

  • memperbaiki sarana dan prasarana sekolah,
  • memperluas akses anak desa ke pendidikan menengah dan tinggi,
  • mendukung program literasi melalui pengembangan taman bacaan,
  • serta mencegah anak putus sekolah dengan memberi perhatian khusus kepada keluarga kurang mampu.

πŸ₯ Kesehatan dan Fasilitas Umum

Kader kesehatan Desa Kedungwangi mengelola 4 Posyandu di setiap dusun. Mereka menimbang balita, memberikan imunisasi, membagikan makanan tambahan, dan menyampaikan penyuluhan gizi. Bidan desa melayani ibu hamil, membantu persalinan, serta mendampingi keluarga dalam perawatan kesehatan dasar.

Orang tua rutin membawa anak mereka ke Posyandu. Para ibu belajar pola hidup sehat melalui penyuluhan, sementara remaja mengikuti kegiatan edukasi kesehatan reproduksi. Dengan keterlibatan ini, warga meningkatkan kesehatan keluarga mereka sendiri.

Pemerintah desa melatih kader baru, menyediakan peralatan kesehatan, dan menggandeng puskesmas kecamatan untuk menangani kasus serius. Perangkat desa juga mengajak warga membersihkan selokan, menanam pohon, dan membuang sampah dengan benar agar lingkungan tetap sehat.

Tidak hanya di bidang kesehatan, masyarakat juga aktif menggunakan fasilitas umum desa. Desa Kedungwangi memeiliki 13 masjid dan mushola dengan kegiatan ibadah dan pengajian. Untuk fasilitas olahraga, Desa Kedungwangi Memiliki 2 lapangan desa.

Guru dan tenaga pendidikan mengajar di TK, SD, SMP, hingga SMA/MA yang berdiri di desa. Relawan literasi mengelola Taman Bacaan Masyarakat agar anak-anak dan orang dewasa bisa membaca buku, berdiskusi, dan menambah wawasan.

Warga bergotong royong memperbaiki jalan, mengecat masjid, merawat lapangan, dan membersihkan sekolah. Pemerintah desa menyalurkan dana pembangunan untuk menambah sarana air bersih, memperbaiki jalan antar dusun, serta membangun fasilitas baru sesuai kebutuhan masyarakat.

Dengan semua usaha ini, warga Kedungwangi menikmati hidup yang lebih sehat, religius, dan sejahtera. Pemerintah desa bersama masyarakat terus menargetkan peningkatan layanan kesehatan, penguatan fasilitas umum, dan pembangunan infrastruktur untuk mendukung kesejahteraan seluruh warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *